Halaman

Kamis, 24 Juli 2014

Mimpi itu mudah ko

Bismillah..
Sudah satu tahun saya baru sempat menulis kembali. semoga bermanfaat.

Bicara soal mimpi. Cukup menarik untuk sedikit dibahas. Tepatnya saat dahulu duduk dibangku kanak-kanak seorang guru bertanya kepada setiap muridnya "Anak-anak kalau udah besar, mau jadi apa hayo?" Dengan wajah lugu nan polos saya menjawab "DOKTER" jawab saya singkat. Entahlah apa yang menjadi motivasi saya saat itu. Namanya anak-anak, pikirannya masih mengawang-ngawang yaaah mungkin lebih tepatnya bermimpi. Padahal saat itu, saya tidak tau pekerjaan sesungguhnya seorang dokter. 

Beranjak SD, sama halnya seperti di taman kanak-kanak. Seorang guru bertanya dengan tujuan yang sama. Menanyakan cita-cita. Tidak berpikir panjang saya jawab "Saya ingin menjadi Dokter" mantap,tegas,dan yakin. 

Ketika SMP pun sama halnya seperti TK dan SD. Pertanyaan dibenak saya, mengapa guru-guru selalu kepo cita-cita kita sih. Memang berpengaruh ya? jawabannya YA. Ternyata saya baru sadar. Tujuan mereka menanyakan hal-hal demikian agar kita selalu ingat apa yang menjadi tujuan kita menimba ilmu. Pepatah mengatakan "Raihlah cita-citamu setinggi langit". Itu pepatah bukan sembarang pepatah. Sebagian dari kita mungkin sering mendengar pepatah itu. Walaupun singkat namun maknanya dalam.

Kisah-kisah indah di SMA pun dimulai. Konon, kata orangtua kita, SMA itu masa-masa yang paling indah. Ah masa sih? Setelah saya buktikan, biasa saja. Malah menurut saya masa-masa paling indah itu SMP. Yah mungkin saya berbeda pendapat dengan banyak orang. Tapi,disinilah titik perubahan demi perubahan yang saya alami. Di sekolah SMAN 10 Bandung inilah saya mengenal banyak hal termasuk "MIMPI". Disinilah saksi perubahan dari zaman jahiliyah ke zaman perbaikan. Jujur, SMP saya sangat kurang dalam segi agama Islam. Mengaji Al-Quran pun terbata-bata. Tutur kata, sikap, tidak patut untuk ditiru. Namun, saya ingat saat setiap sekolah ini mengadakan pasantren kilat. Pemateri selalu berusaha menyentuh para siswa untuk dapat terpengaruh hal-hal positif yang disampaikan. Alhasil, saya sangat terpengaruh. Lalu, ketika pemateri memberikan materi tentang apa yah.. saya lupa judulnya apa. Intinya dahsyatnya mimpi kita, nah  kami disuruh untuk menuliskan semua mimpi kami yang paling kami inginkan diatas kertas lipat berwarna. Dingatkan kembali, tuliskan mimpi-mimpimu SEBANYAK-BANYAKNYA. Apapun yang terlintas saat itu saya tulis satu persatu, sampai ketika semua sisi terisi oleh tulisan, saya baru sadar ternyata tulisannya acak-acakan banget -,-. Lalu pemateri memberikan intruksi untuk mengumpulkannya. Selesailah games mimpi. Ketika bubaran Sanlat, didepan aula ada pemandangan berbeda. Ada tali disepanjang aula, lalu ada yang ngawir-ngawir . Oh itu hanya kertas lipat. sekejap mata melolot loooooh itu kertas lipat tulisan apa. Ternyata dalamnya, semua itu mimpi yang telah kami tuliskan didalam aula. Kaget bukan kepalang karena disetiap kertasnya ad nama dan kelas sertaa siapapun bisa membaca mimpi-mimpi kami yah maksudnya mimpi saya. Sungguh memalukan. Benar dugaan saya, semua mengerubuni setiap kertas yang berjejer disana. Ada yang mencari kertas miliknya, sahabatnya, bahkan kecengannya *ups*. 

Pelajaran saat ini. Jika kita saat ini memiki mimpi alangkah baiknya kita tuliskan diatas kertas. Mengapa demikian? karena saya yakin, kita tak akan selalu ingat apa mimpi-mimpi kita bahkan bisa jadi kita lupa. Ketika semua mimpi-mimpi itu dituliskan baru kita tempel kertas itu di dinding kamar kita. Biarkan mimpi itu terpampang dengan indah di dinding kamar kita agar kamar pun menjadi saksi tercapainya mimpi-mimpi tersebut. Ketika mimpi demi mimpi kita capai, ingat selalu mencoretnya agar kita pun tau berapa mimpi dan tinggal berapa lagi mimpi yang akan kita wujudkan. Terlepas dari itu semua, kita sebagai MakhlukNya wajib untuk berusaha dan berdoa karena percuma kita membuat mimpi sebanyak itu namun tak ada action dalam hidup ini. Kita pun harus siap untuk kecewa ketika ada mimpi yang belum tercapai. Bisa jadi Tuhan mengganti mimpi kita dengan sesuatu yang lebih indah. Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurutNya loh. 

So, tambah terus mimpi kita ya. Terus semangat, berusaha, dan berdoa semoga setiap mimpi yang kita tuliskan benar-benar menjadi nyata karena semua ini berawal dari mimpi.

Tahun 2014 FK UGM mungkin Allah belum memperkenankan saya untuk berkuliah disana. Namun, saya selalu yakin, Allah telah menyediakan tempat yang indah untuk saya berkuliah tahun ini dengan jurusan pendidikan dokter walaupun bukan di UGM. 

edisi berikutnya saya akan berbagi mengapa harus pendidikan dokter :)

Minggu, 14 Juli 2013

Renungan

Pantaskah ku sebut kau muslimah?
Pantaskah ku sebut kau akhwat?
Pantaskah ku sebut kau mulia?
Pantaskah ku sebut kau istimewa?
Pantaskah ku sebut kau sempurna?
Pantaskah ku sebut kau itu semua?

Kumunafikan dan kesombonganlah yang menjerumuskan manusia
menjerumuskan manusia ke lubang kehinaan dan kekotoran
sadarkah kau atas kasing sayangNya?
sedangkan Allah telah memuliakanmu?

Jumat, 29 Maret 2013

TALEMPONG ( CALEMPONG )






Calempong Kampar

TALEMPONG adalah alat musik perkusi yang terbuat dari logam, perunggu, atau besi, berbentuk bundar, terdapat di daerah Kuantan dan Riau.Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter  lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.
Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga pranada DO dan diakhiri dengan SI.
Talempong diiringi oleh akord yang cara memainkanya serupa dengan memainkan piano.

Fungsi talempong adalah :
  1. mengiringi sebuah tarian sakral.
  2. pada zaman dahulu dibunyikan ketika akan menyampaikan sebuah pesan pentingdari wali nagari oleh orang suruhannya kepada masyarakat.
  3. dimainkan ketika me ngiringi pasangan pengantin menuju rumah mempelai wanita (bararak).
  4. dimainkan dalam mengiringi tarian silat kampung.
  5. mengiringi tari Batobo. Tari batobo adalah seni pertunjukan tradisional dari daerahKuantanSingingi. Tari Batobo berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat yang bekerja di sawah, atau sebagai ungkapan kegembiraan setelah masa panen tiba. Pola gerak, tata rias, tata busana, dan musik tari, serta pola lantai tari Batobomenggambarkan budaya masyarakat agraris, yang sederhana. Kesederhanaan tersebut menunjukkan bahwa tari Batobo adalah sebuah tari yang mempunyai pola tari yang bersifat kerakyatan. 

Geografi


Ada bergagai macam teori kejadian alam semesta. Semua teori tersebutpun dapat dimengerti dengan mudah dengan kenyataan-kenyataan yang ada. Karena itu saya akan membahas tentang hal ini. Berikut ini merupakan beberapa teori kejadian alam semesta :
 Teori Big Bang
Teori ini di kemukakan oleh Abbe Lemaitre tahun 1920-an. Menurutnya alam semesta ini bermula dari gumpalan superatom raksasa yang Isinya tidak bisa di banyangkan. Tetapi kira-kira seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10 miliar sampai 1 trilyun derajat celcius. Gumpalan superatom tersebut meledak sekitar 15 miliar tahun yang lalu. Hasil sisa dentuman dasyat tersebut menyebar menjadi debu dan awan hydrogen. Setelah berumur ratusan juta tahun, debu dan awan hydrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda-beda. Seiring dengan terbentuknya bintang-bintang, diantara bintang-bintang tersebut berpusat membentuk kelompoknya masing-masing yang kemudian di sebut Galaksi.


Teori Keadaan Tetap (steady State Theory)

Teori ini di usulkan oleh H. Bondi, T. Gold, dan F. Hoyle dari Universitas Cambrigde (Tjasyono, 2006:51). Menurut teori ini, alam semesta tidak berawal dan tidak akan berakhir. Dalam teori keadaan tetap, tidak ada asumsi bola api kosmik yang besar dan pernah meledak. Alam semesta akan datang silih berganti berganti berbentuk atom-atom hydrogen dalam ruang angkasa, membentuk galaksi baru dan menggantikan galaksi lama yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya.
Teori Osilasi
Teori lainnya adalah Teori Osilasi. Teori osilasi memandang kejadian alam semesta sama dengan teori keadaan tetap, yaitu bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak akan berakhir. Bedanya dalam teori osilasi masih mengakui adanya dentuman besar dan pada suatu saat gravitasi akan menyedot kembali sehingga alam semesta akan mengempis (collapse) yang pada akhirnya akan menggumpal kembali dalam kepadatan yang tinggi dengan temperatur yang tinggi dan akan terjadi dentuman besar kembali. Setelah big-bang kedua terjadi, dimulai kembali ekspansi kedua dan suatu saat akan mengempis kembali dan meledak untuk ketiga kalinya.

Angka Kemiskinan di Indonesia Masih Tinggi



Jumat, 30/12/2011 - 09:39
JAKARTA, (PRLM).- Angka kemiskinan di Indonesia sepanjang tahun 2011 dinilai beberapa kalangan masih tinggi walaupun pemerintah mengklaim sudah berhasil menekan angka kemiskinan. Menurut aktivis Dian Irawati masih diperlukan program tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan di tanah air.
Dian Tri Irawati dari LSM Rujak Center for Urban Studies mengatakan, pemeritah memang sudah berupaya merealisasikan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM Mandiri.
Ia mengingatkan jika pemerintah benar-benar berniat ingin terus menekan angka kemiskinan maka pemerintah jangan sampai mengeluarkan kebijakan yang menyulitkan masyarakat kurang mampu dalam menjalankan kehidupan seperti izin berdagang dan izin tempat tinggal.
“Sebetulnya tanpa injeksi modal dari pemerintah pun mereka akan survive secara ekonomi, konsumsi juga ya ditingkatan lokal sehingga perputaran uang tetap terjaga, tapi itu tidak serta merta dimunculkan oleh program pemerintah, kalau saya tetap melihat apa yang sudah dilakukan memang baik tapi mungkin bagaimana menjaga agar kebijakan yang sudah baik, untuk mencoba memberdayakan rakyat miskin bisa mandiri dan akhirnya bisa lepas dari level kemiskinan,” ujar Dian.
Dian Tri Irawati berpendapat, jika pemerintah serius menjalankan program yang sudah dicanangkan yaitu pro job, pro poor dan pro environment, pemerintah juga harus serius menjalankan upaya pemberantasan korupsi.
“Kita tidak akan pernah selesai dalam urusan pengentasan kemiskinan, mau maju dalam pembangunan kalau isu korupsi belum selesai, minimal diminimalisir semuanya drastis menurun di 2012 baru saya bisa percaya bahwa tiga skema ini bisa berjalan, korupsi itu kan di segala lini, di semua program mungkin, itu masih akar masalah dan ‘PR’ (pekerjaan rumah) besar,” kata Dian.
Sementara, menurut staf khusus bidang ekonomi Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Lucky Korah, kementeriannya juga sangat aktif berupaya menekan kemiskinan di berbagai daerah. Ditambahkannya tahun depan kementeriannya akan fokus dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI.
Ia menjelaskan, “Perlu pergerakan ekonomi yang mendorong ekonomi merakyat, dari 22 kegiatan MP3EI sebagian besar ada di kawasan timur Indonesia termasuk di Papua dan Maluku, pertambangan, energi, perikanan, pertanian, pangan termasuk dari bagian itu, kita harapkan dengan memacu daerah tertinggal, memanfaatkan kebijakan MP3EI maka pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, pengurangan pengangguran di kasawan tertinggal bisa otomatis turun.”
Menurut catatan pemerintah, dari jumlah orang miskin sebelumnya yaitu sekitar 17,7 juta orang pemerintah menargetkan turun menjadi 16 juta orang hingga akhir tahun 2011. Pemerintah telah menargetkan untuk dapat menurunkan angka kemiskinan tahun depan menjadi sekitar 14,4 juta orang miskin di Indonesia.(voa/A-147)*

Faktor-faktor yang menyebabkan angka kemiskinan di Indonesia  :
  • Program belum tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan  di Indonesia
  • Adanya kebijakan pemerintah yang menyulitkan masyarakat kurang mampu dalam menjalankan kehidupan seperti izin berdagang dan izin tempat tinggal
  • Pemerintah memberikan injeksi modal namun belum bisa menjaga kebijakan untuk mencoba memberdayakan rakyat miskin bisa mandiri dan akhirnya bisa lepas dari level kemiskinan
  • Pemerintah belum serius menjalankan upaya pemberantasan korupsi
Upaya pemerintah :
  • diperlukan program tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan di tanah air.
  • merealisasikan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM Mandiri.
  • Tidak mengeluarkan kebijakan yang menyulitkan masyarakat kurang mampu dalam menjalankan kehidupan seperti izin berdagang dan izin tempat tinggal.
  • Menjaga kebijakan yang sudah baik, untuk mencoba memberdayakan rakyat miskin bisa mandiri dan akhirnya bisa lepas dari level kemiskinan.
  • serius menjalankan program yang sudah dicanangkan yaitu pro job, pro poor dan pro environment
  • pemerintah juga harus serius menjalankan upaya pemberantasan korupsi.
  • aktif berupaya menekan kemiskinan di berbagai daerah.
  • fokus dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI.

PENYEBAB DAN CARA PENULARAN PENYAKIT TBC



Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi-gASRBpM_y9twLfOs6VZ0F1jR-EGPEoTlvdVOuQBOzYaV9yGv5_wt8zNFY6sIR7SOHpxA_oWwXnIVNvOXd_TqOcYrVuM7LWeEGvQAcqVRi-C3YOdxBjDMf8Ro3cP0LebDqv_nB-NuZm0/s320/PenyakitTBC.jpg
 Tuberkolosis atau TBC adalah infeksi karena bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat merusak paru-paru tapi dapat juga mengenai sistem saraf sentral (meningitis, sistem lymphatic, sistem sirkulasi (miliary TB), sistem genitourinary, tulang dan sendi.Penyakit TBC juga yaitu suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). 

Cara Penularan Penyakit TBC


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI-Rxmuwy_bQln_NwBlSga70ktTPnd_Ql2TuymUSA0pFb3HUfywSHUxfcwrjxIfp6GHdW4As-jXiyXrAjHqRzX-7zQWD-L2ODTBoKYBu6OcPdBslE-t-SgtnCVnmRoHEcT0V2oRSAmEXNg/s200/bakteri-m-tb.jpg             Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
              Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
              Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
                Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.
Gejala Penyakit TBC
            Gejala sistemik/umum:
* Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
* Penurunan nafsu makan dan berat badan.
* Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
* Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

            Gejala khusus:
* Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
* Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
* Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
* Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Cara mengobati secara tradisional/alami:
              Hal-hal yang perlu diperhatikan penderita: bahwa penderita harus sering berjemur pada panas matahari pagi agar mendapatkan sinar ultraviolet yang dapat membunuh kuman-kuman tubercolose, dan tempatnya harus agak tinggi dan berudara segar. Setiap hari agar melatih menyedot dan mengeluarkan napas perlahan-lahan secara tetap dan teratur.
             Adapun ramuan tradisional yang diperlukan: daun pegagan 10 gram, daun waru lengis 10 gram, widoro upas 25 gram, daun legundi 10 gram, parutan kencur 5 gram. Semua bahan direbus airnya disaring, lantas diminum.
            Ramuan lainnya: daun pegagan 15 gram, daun waru lengis 10 gram, pupus daun legundi 15 gram, widoro upas 10 gram, kencur 5 gram, biji pronojiwo ditumbuk 5 gram. Semua bahan ditumbuk lantas direbus, kemudian disaring, airnya untuk diminum.

Karena Aku dan Dia “BEDA”


                      Namaku Linda. Aku seorang siswa SMAN di kota Bandung sekaligus karateka. Cita-citaku menjadi dokter yang sering ku sebut Dokter Belek. Aku mempunyai banyak sahabat. Diantaranya Nisa dan Rey. Banyak yang ku alami ketika memasuki SMA. Salah satunya ku bertemu seseorang yang menurutku dia “BEDA” dari yang lainnya. Namun ada saja yang membuatku ragu padanya.
Semester 2
“Dan kau hadir mengubah segalanya, menjadi lebih indah, kau bawa cinta setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna..a..a..a” ku bernyanyi sambil menatap lapangan basket. Tiba-tiba Nisa mengagetkanku.
“DOAR! Cie yang lagi nyanyi. Nyanyi apa lo? Kayanya lagi jatuh cinta nih” katanya sambil menggodaku.
“Yeh sok tahu lo. -.- lagian lo tiba-tiba nongol. Emang kalau gue nyanyi salah ya?” protesku.
“Yah enggalah nengku yang ndut” jawabnya ketus.
“Hm mulai deh Ndut-ndutnya keluar. Gue langsing abang haha” sambil menjenggut rambutnya.
“Woy, SAKIT TAU!” mulai dia marah.
“Oh sakit. Ya maaf engga tau sih,” balasku ketus.
“Sini lo, gue cubit pipi lo biar makin kaya bapau.” Nisa pun siap-siap mengejarku. Ku berusaha menghindarinya.
“Silahkan. Kalau bisa! Wle!” ku berlari menuju masjid.
Ketika Nisa mengejarku, aku berusaha agar dia tak dapat mencubit pipiku. Namun ku mulai kehilangan keseimbangan. “BRAAAK” ku terjatuh tepat di dekat selokan masjid.
“Auuu sakit ..” ku merengek kesakitan.
“LINDA! Awas jatuh!” teriak Nisa.
“Yeh lo. Gue udah jatuh kali,” keluhku.
“kamu engga apa-apa?” tanyanya seorang kaka kelas cowo yang tak salah lagi dia yang telah menabrakku. Ternyata dia adalah wagusku ketika MPLS.
Ngga apa-apa darimana. Jelas-jelas tanganku berdarah gara-gara dia. Tetapi ku berusaha menyembunyikannya.
“Gak ko akang,” jawabku datar.
“Oh, bagus kalau begitu.”
“ha?” jawabku cengong. Sialan nih manusia atau vampir. Benar-benar tidak ada rasa kemanusiaan.
“oh, bagus kalau begitu.” Ulangnya dengan menekan setiap kata. “Maaf”. Dia pun pergi tanpa sedikitpun memperlihatkan wajah berdosa.
          Aku hanya dapat cengong melihat tingkah manusia yang satu ini. Sifat dinginnya benar-benar dingin.
Namanya Rendy. Dia kaka kelasku hingga saat ini. Memang sikapnya yang dingin dan berbicara seperlunya. Ku sudah dekat dengannya hampir 6 bulan. Dimulai dari tanggal 27 Juli. Dia memberikanku gantungan kunci yang harus ku jaga sampai aku menjadi dokter bedah. Banyak orang yang bilang dia aneh, gak jelas, serius, dan garing. Kecuali aku. Bisa dibilang dia seseorang yang ku kagumi dari pertama masuk SMA. Namun ku yakin. Dia mempunyai sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya.
“Dret...Dret !” ponselku bergetar. Satu pesan dari Rey. “Hari ini langsung pulang?”
“Belum tahu,” balasku singkat.
“Dret...Dret!” ponselku bergetar kembali. Satu pesan dari Rendy. “Linda, langsung pulang kah?”
“belum tahu akang J” balasku singkat.
#bel pulang pun berbunyi.
Aku pun menghampiri Nisa. Kelasnya tepat disebrang kelasku. “Lama banget si Nisa keluar.” Ku menggerutu kesal.
“WOY !” dia kembali mengagetkanku.
“Heh lo ngagetin gue terus. Gimana kalo jantung gue copot! Mau lo tanggung?” kataku kesal.
“Aduh si neng bawel banget sih. Baru juga segitu. Yah kalau copot paling lo udah mati kali Lin,” jawabnya ringan.
“Yauda lupakan. Ohiya sekarang mau bareng engga?” tanyaku.
“Engga tau nih, aku udah punya janji dengan Sanny,” sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hih lo banyak kutu ya? Garuk-garuk kaya orangutan. Hm..(mengangkat jari) gue kemana ya? Bingung, di rumah sendiri.”
“Eh sekarang kan hari Jum’at. Bukannya lo latihan karate ya?” tanyanya dingin.
“Ya ampun gue lupa. Bajunya ketinggalan (terkejut). Yauda gue balik ya. Dadah” tanpa menghiraukan jawaban Nisa, aku langsung pulang untuk mengambil baju karate.
“Eh..eh -..- kebiasaan tuh anak”
          Tak lama aku pergi. Nisa berpapasan dengan Rey.
“woy NISA!” panggil Rey dengan kencang
“woy biasa aja manggilnya om” balas Nisa kesal.
“sorry deh hehe. Kirain nggak denger lo. Ohiya, liat si ndutt nggak?” tanya Rey
“beuh dia baru aja balik. Baju karatenya ketinggalan.”jawab Nisa
“ohiyaya dia karate sekarang. Hm.. lo mau kemana?” tanya Rey penasaran.
“kepo lo! Gue udah ada janji dengan Sanny. Gue titip si ndut sama lo ya. Soalnya kalian seleseinya bareng. Anterin dia sampai parkiran. Awas kalo kagak!” Nisa menasehati Rey dengan bawel.
“tanpa lo suruh juga gue pasti jagain ko si ndut. Kalem aja.” Jawab Rey tenang.
“yauda bagus deh. Gue pergi ya. Hati-hati lo!” Nisa melambaikan tangan pada Rey.
“yang hati-hati itu lo!” Rey langsung pergi ke sekre basket.
Nisa dan Rey adalah sahabatku yang paling cerewet. Mereka sudah menganggapku seperti adik mereka sendiri. Karena tingkahku yang terkadang manja didepan mereka. Bahkan akhir-akhir ini kami sering pergi bersama untuk bermain. Namun sebenarnya ada yang disembunyikan oleh Rey. Dia menyukaiku. Awalnya aku tak mengetahuinya. Tetapi semakin kesini, tingkahnya semakin terbaca olehku. Sempat dia mengirimkan sms tidak jelas. Dan menurut Nisa, Rey memang suka padaku.
Keesokan harinya
“Rey! Woy Rey!” panggil Nisa.
(menegok ke belakang) “Eh lo Nis.” Rey pun berlari menghampiri Nisa.
“Lo budek ya. Diteriakin nggak nyahut-nyahut.” Nisa menggerutu kesal.
“ye ya sorry Nis. Habis lo bukannya samperin, malah teriak-teriak kaya orang gila,” balas Rey sadis.
“enak aja gue dibilang orang gila,” jawab Nisa sambil menjambak rambut Rey.
“woy sakit tau!” Rey berusaha melepaskan tangan Nisa dari rambutnya.
“ eits, nggak bisa wle!” akhirnya Nisa pun melepaskan tangannya dari kepala Rey. Rey berusaha mengejarnya. Namun Nisa terlalu lincah untuk diajak berlari.
“ah gue nyerah deh” Rey pun duduk di Tribun sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
“eh Rey lo payah! Baru ngejar gue segini aja udah nyerah. Gimana mau ngejar cintanya si Linda” ejek Nisa.
“yeh kalo urusan itu ya bedalah. Kalau ngejar dia sampai ke ujung dunia pun gue kejar!” Rey mulai membelas dirinya.
“ha? Apa lo bilang? Sampai ujung dunia? BEGO!” Nisa pun tak ingin kalah.
“loh ko gue dibilang bego?” tanya Rey kebingungan. “jangan-jangan lo cemburu ya. Haha,” lanjut Rey.
“lo pernah belajar geografi gk sih? Kan bumi itu bulat. Kalo bulat ya nggak akan ada ujungnyalah” tanya Nisa sambil mengejek Rey.
“yeh kan perumpamaan dong. Ceritanya mau lebay kan hehehe.” Balas Rey yang sama-sama keras kepala.
“iya deh perumpamaan. Tapi perumpamaan orang BEGO!” Ejek Nisa dengan pedas.
“eh lo rese banget sih” Rey mulai kesal
“biarin!” jawab Nisa ketus.
Pantes nggak ada yang suka sama lo” Balas Rey mengejek
“enak aja. Banyak tau!” Nisa terus saja membela diri
“iya bener banyak. Cuma kalo udah deket lo mereka ilfil” semprot Rey sambil mengacak-ngacak rambut Nisa
“Idih Rey lo jahat” jawab Nisa dengan raut wajah pundung.
“lo lebih jahat!” Balas Rey tak ingin kalah.
“iya deh gue nyerah Rey” akhirnya Nisa pun mengalah
“nah gitu dong” Rey pun merasa puas.
“gue kasian sama lo. Jadi gue nyerah hehe”
“btw, kemana si ndut? Dia langsung pulang?
“kagak tau. Coba gue sms deh.” Balas Nisa sambil mengeluarkan ponsel di saku roknya.
“apa dia lagi sama akang-akang itu ya” Rey mulai kebingungan.
“ah nggak mungkin. Kalau dia bareng, pasti ngabarin ko” jawab Nisa sambil menenangkan Rey.
          Tiba-tiba aku pun datang dengan nafas ngos-ngosan.
“WOY KALIAN!!” kagetku pada mereka.
“sialan lo ndut ngagetin gue” jawab Nisa dingin.
“sorry gue nggak kabarin kalian. Lagi nggak ada pulsa nih. Ohiya tadi ada tambahn biologi. Jadi telat. Pasti kalian nungguin gue ya? Sorry banget ya” kataku sambil berusaha mengatur nafasku.
“ndut...ndut.. atur nafas lo. Santai aja kali.” Balas Rey mencoba menenangkanku.
 “eh ndut tuh akang Rendy lewat” Nisa mengagetkanku dengan menepok pundakku kencang.
“woy sakit tau! Hm.. mau kemana ya da..” tanyaku.
“yah samperin dong” bals Nisa ketus.
“ogah. Yang ada gue ditiisin lagi” balasku menolak.
          Tak sadar. Raut wajah Rey berubah menjadi merah. Ku tak tau pasti mengapa dia tiba-tiba seperti itu. Namun sudah pasti dia cemburu.
“gue ke kanti” balas Rey dengan nada dingin. Benar apa kataku.
“heh Nis mulut lo harus dijaga deh” protesku
“ohiyaya deh maaf. Aku lupa hehe. Udahlah. Ntar juga Rey baikan lagi” Nisa mencoba menenangkan.

Akang Rendy cinta pertamaku di SMA. Orang menilaiku aneh bisa menyukainya. Padahal menurut mereka, aku bisa mendapatkan yang lebih daripadanya. Menurutku akang Rendy sosok yang dewasa. Tidak hanya itu, sebenarnya dia bisa romantis seperti cowok lainnya, perhatian bahkan sangat perhatian. Caranya saja yang berbeda. “BEDA” sebutan untuk kami. Singkatan dari EMBE jeung KUDA. Konyol bahkan sangat konyol.
#Lembang
“Linda, lihat itu Embe. Kembaran kamu hahaha,” katanya dengan penuh kepuasan.
“Yey enak aja. Lucu tahu aku mah,” balasku dengan memasang wajah so imut.
“Ih kenapa tuh muka kamu? Jelek banget,” jawabnya dingin.
“Ih enak aja,” jawabku singkat.
          Pemandangan yang indah ditambah lelucuan Rendy yang super garing. Ku memang tertawa. Tertawa karena wajahnya yang polos.
“Linda, Akang mau menanyakan sesuatu padamu,” kali ini dia serius.
“Hm.. boleh. Apa memang?” kataku berusaha tetep tenang walaupun aku sedikit kaget.
“Ko kamu mau jalan dengan Akang? Padahal banyak lelaki selain akang yang lebih dan bisa dikata mereka ganteng.”
“Hm loh nanyanya seperti itu,” aku bingung harus menjawab apa. Sebenarnya aku bisa menjawab yang sebenarnya. Namun aku terlalu gugup dan malu.
“Yah, Akang hanya bertanya. Hahaha hanya mengetes ko. Mukanya lucu juga kalau lagi kebingungan,” jawabnya datar.
“Hah? Lucu? Linda tidak salah dengar? balasku terkejut.
“Biasakan hah diganti dengan apa. Itu kurang sopan.”
“Ohiya maaf. Apa? Lucu?” tanyaku ulang dengan memperbaiki perkataanku.
“Eh, lihat ada kuda.” Rendy menunjuk seekor kuda tanpa mempedulikan pertanyaanku.
         Ini kesekian kalinya aku jalan bersamanya. Namun akhir-akhir ini kami jarang untuk jalan bersama karena dia sibuk untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Terlintas dipikiranku. Ujian Nasional? Sebentar lagi dia akan lulus dan otomatis dia akan meninggalakanku. Keluarganya tinggal di Karawang. Kalau dia meneruskan kuliah diluar Bandung, apa kami bisa bertemu seperti saat ini?
“WOY! Ngelamun aja!” kata Rendy dengan wajah polos.
“Hehe maaf KUDA!” kataku nyolot.
“Ngelamunin apa hayo? Akang nyak?” tanyanya dengan percaya diri.
“Yeeee GR banget sih. Tapi memang bener,” kataku sambil menjenggut rambutnya. “Akang, kalau akang kuliah apa kita masih bisa bertemu seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Hm.. Entahlah. Ingat hukum III NEWTON. Ada aksi dan reaksi. Jika Linda beraksi maka akang akan beraksi. Ingat pula pesan akang. Bunga akan mekar indah pada waktunya. Akang pun akang menunggu bunga itu mekar pada waktunya.” Rendy menjelaskan panjang lebar.
“Hehe oh” jawabku singkat.
“Oh,oh,oh ngerti kagak?” tanyanya yang mulai kesal.
“ENGGA! Wle! KABUUUUUR!” kataku sambil berlari.
“Yeh dasar EMBE!” balasnya dingin.
           Ujian Nasional pun selesei. Dan Rendy lulus dengan nilai terbaik. Namun sayang, dia tidak bisa melanjutkan kuliahnya di ITB. Melainkan diluar kota. Karena keluarga menginginkannya kembali bersama.
“Linda, gimana hubungan lo sama Akang-akang itu?” tanya Nisa penasaran.
“Akang Rendy maksud lo?” kataku menegaskan. “Entahlah Nis (menghela nafas). Gue sedih kalau bener dia harus kuliah di luar kota. Masalahnya kapan gue sama dia bisa ketemu” jawabku pasrah.
“Sabar ya Lin. Gue tau ini berat buat lo. Tapi yakin semua ini memang yang terbaik,” tangan Nisa mulai mengelus rambutku.
“Jiah sinetron banget sih. Kalem aja. Gue kuat ko abang,” jawabku dingin. Aku kembali berpura-pura kuat didepan Nisa. Sebenarnya aku tak ingin membuat sahabatku sedih hanya karena masalahku sendiri. Aku hanya akan berbagi kesenangan padanya.
          Matahari seakan-akan hanya beberapa jengkal dari bumi. Hari ini sangat panas. Kami memutuskan untuk bermain basket. Namun hanya Nisa yang bermain. Tiba-tiba Rey pun datang dan bergabung dengan Kami.
“Lin, sini main sama kita. Daripada bengong sendiri di Tribun,” ajak Nisa padaku.
“Iya ndut. Ntar tambah gendut loh gara-gara jarang olah raga,” Rey pun berusaha membujukku.
          Entahlah aku sedang tidak bersemangat hari ini. Mengingat Rendy sudah lulus. Dan lambat laun dia akan meninggalkan SMA ini. Bukan hanya SMA namun kota yang telah mengukir kenangan ku bersamanya.
“Nggak. Gue disini aja lihat kalian main basket. Lagian gue nggak bisa basket” kataku dengan raut wajah kepanasan.
“Dret..Dret” ponselku bergetar. Satu pesan dari Rendy. “Linda maaf akang baru mengabarkan. Alhamdulillah kelulusan sudah dibagikan. Dan akang mendapat nilai memuaskan. Ini semua berkat doa orang tua, akang, dan terutama LINDA. Maafkan kesalahan akang selama ini. Tapi mungkin sudah waktunya. Jaga kesehatan. Terutama jaga selalu hatimu. Akang akan kembali ketika Linda sudah benar-benar mekar dengan sendirinya. Miis You Embe :’)”
         Tak bisa ku bendung lagi. Air mata ku mengalir membasahi pipiku yang sudah mulai memerah. Ku tak sanggup. Kali ini aku benar-benar menangis. Menagis karena kepergiannya. Aku sudah mengira semua akan berakhir seperti ini. Kata-katanya sangat menyentuh. Entahlah apa yang bisa ku balas dari sms tersebut.
“Nisa lo ngerasa aneh nggak?” tanya Rey pada Nisa.
“Hm kenapa emang? Ngerasa sih. Hari ini panas banget bro,” jawabnya Nisa sambil mengshut bola ke ring.
“Yeh lo bego. Maksud gue Linda. Liat dia! (sambil menunjuk ke arahku) “Apa dia ada masalah?” tanya Rey dengan ekspresi mengkhawatirkan.
“Astaga. Lo napa nggak bilang daritadi. Dia nangis dodol.”
         Nisa dan Rey menyadari bahwa aku sedang menagis. Mereka kebingungan. Mungkin ingin rasanya mereka bertanya, namun enggan karena takut.
“Heh ndut kenapa?” tanya Rey yang mulai berani bertanya.
“Eh kalian. Sudah main basketnya?” tanyaku pada mereka tanpa menghiraukan pertanyaan Rey.
“Eh neng ditanya malah balik tanya. Udah selesei ko. Soalnya tiba-tiba hujan,” kata Nisa sambil mengelus kepalaku.
“Ha? Hujan darimana? Orang panas gini,” tanyaku heran. Astaga! Sepertinya mereka sadar aku menangis.
“Gara-gara bidadarinya lagi bersedih. Jadi deh hujan,” jawab Nisa asal.
          Aku masih belum bisa merelakan Rendy pergi. Dan tak tahu kapan dia akan kembali.
          Sekarang ku sudah duduk kelas XI IPA sama seperti Rey. Sedangkan Nisa masuk kelas IPS sesuai dengan keinginannya. Namun kini tak ada senyuman Rendy menghiasi hari-hariku.
          Kelas XI memang benar masa-masa yang indah. Nisa dan Rey selalu ada saat ku membutuhkan mereka. Disaat ku bersedih mereka selalu menghiburku dengan tingkah mereka yang autis. Tapi ada satu masalah. Semakin hari tubuhku semakin lemah. Seringkali aku mimisan. Nisa dan Rey tidak tau itu semua. Aku sengaja menyembunyikannya dari mereka. Namun sampai kelas XII akhir.
“1..2..3..4..5..6..7..8..” suara Pak Asep guru olahraga dengan semangat. “Ayo hitung semuanya!” kata Pak Asep mengintruksikan kami.
“1..2..3..4..5..6..7..8..” sekarang giliran kami yang menghitung dengan kompak.
“LINDA!” Pak Asep memanggil namaku dengan suara menggelegar.
“Ya pak,” jawabku sambil mengacungkan tangan.
“Bapak bukan mengabsenmu! Daritadi bapak lihat kamu yang paling lemes diantara teman-temanmu. Kamu sakit?” katanya sambil menghampiri diriku.
“Tidak pak!” jawabku tegas.
“Kamu tidak bisa berbohong pada bapak! (memegang dahiku) Badanmu demam. Kalau kamu melanjutkan pelajaran Bapak, kamu akan merepotkan teman-temanmu,” lanjutnya menasehatiku.
          Memang benar apa yang dikatakan Pak Asep. Tubuhku sangat lemas. Suhu tubuhku tinggi. Tapi aku harus memaksakannya. Karena hari ini adalah Ujian Praktek. Aku malas jika harus mengikuti ujian susulan dan nilainya pun pas KKM.
“LINDA! Bapak sedang bicara denganmu!” teriaknya padaku.
           Tubuhku tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Mataku mulai kabur. Suara Pak Asep pun terdengar samar-samar. Semakin lama kakiku lemas. Tak dapat aku gerakkan sama sekali. Aku melihat cahaya putih. Ada seorang lelaki berjalan menujuku dengan berpakaian serba putih. Wajahnya tidak jelas namun lelaki itu tidak asing bagiku. Semakin mendekat dan terus mendekat. Aku tak bisa melihat wajahnya. Cahaya putih itu mengganggu penglihatanku. Terdengar suara lelaki itu memanggil namaku. “Linda..Linda..Linda” lelaki itu memanggil namaku terus-menerus. Namun bayangnya mulai menjauh dariku. “Hey jangan pergi! Kamu Akang Rendy? Jawab hey!” kataku sambil ku berusaha menggapainya. “Akang Rendy apa itu kau?” lanjutku. “AKANG RENDY!” teriakku dengan kencang.
“Linda lo kenapa?” tanya Nisa.
          Aku baru sadar. Ternyata itu semua hanya mimpi. “Hah? Gue dimana nih?” tanyaku kebingungan.
“Lo ada di UKS Lin. Tadi pas ujian praktek lo pingsan. Sebelumnya lo sempet mimisan. Lagian lo maksain. Badan lo demam Lin! Untung tadi gue dengan Rey langsung nyumpel mulutnya Pak Asep. Gubrak lo pingsan,” kata Nisa menasehatiku dengan ekspresi khawatir
“Hehe oh. Iya deh maaf. Bawel banget lo Nis.”jawabku tenang. Aku sadar aku telah merepotkan banyak orang.
“Eh Lin. Lo lagi ada masalah ya?” tanya Rey padaku.
“Masalah? Nggak tuh,” balasku sambil beranjak dari kasur UKS.
“Eh, lo jangan banyak gerak dulu! (memegang tanganku) lo masih lemas ndut!” kata Rey dengan penuh kekhawatiran.
“Ih kalian kenapa sih. Parno banget. Gue udah nggak apa-apa. Lihat nih (melepas genggaman Rey) Noh gue bisa berdiri lagi kan,” kataku menyombongkan.
***
           Kami sekarang sudah lulus SMA. Namun berita buruk. Kali ini aku terbaring dirumah sakit. Seusai ujian Nasional dan Ujian akhir sekolah penyakitku sering kambuh. Sebenarnya sudah 1 tahun aku mengidap penyakit kanker selaput otak. Namun aku baru mengetahuinya ketika 3 bulan yang lalu. Dan tetap aku merahasiakan kepada keluargaku dan Nisa serta Rey. Tentang Rendy, dia tidak ada kabar sama sekali. Hatiku mulai ragu akan janjinya yang akan kembali. Tetapi ku berusaha menepis rasa raguku dan tetap yakin bahwa dirinya pasti kembali.
          Semakin hari keadaanku semakin buruk. Rambutku mulai rontok. Bahkan hampir habis. Ku sempatkan membuat surat untuk Rendy.
Nisa dan Rey setia menemani hari-hariku dirumah sakit. Terbaring tak berdarah. Ingin rasanya sehari saja aku meninggalkan tempat mengerikan ini. Dapat menghirup udara segar dan berlari-lari bersama kedua sahabatku yang sangat ku sayang. Apakah Rendy mengetahui bahwa aku sakit? Apakah dia baik-baik saja disana? Apakah kami dapat bertemu kembali untuk terakhir kalinya? Waktu yang menjawab itu semua.
         Kali ini Nisa yang menjagaku. Dia mungkin sangat lelah menjagaku. Dia sahabatku yang paling setia menungguku. Aku usap rambutnya. Tak sadar air mataku keluar kembali. Ku tak tega bila aku harus meninggalkan Nisa dan juga Rey yang sudah banyak membantuku. “Nis, maafin gue kalau gue tiba-tiba pergi ninggalin lo selamanya,” kataku sambil memegang tangannya yang begitu hangat. Dia masih tertidur pulas. Rasa kepala itu kambuh kembali. Sialan kenapa sakit ini harus kambuh disaat ku ingin bersama Nisa. “Ya Allah, aku pasti kuat! Aku masih bisa. Dan harus bisa. Ya Allah berilah waktuku sebentar saja untuk pamit pada mereka. Setelah itu Engkau boleh mangambilmu” kataku berharap padaNya sambil memegang tangan Nisa erat-erat.
          Nisa pun terbangun. “Linda! Lo kenapa? Lo kesakitan?” tanyanya kebingungan kerena melihat ku menggenggam erat tangannya. Ekspresinya berubah ketakutan.
          Aku berusaha berbicara walau rasa sakit ini sudah tidak dapat aku tahan. “Nis... gue tau gue banyak salah sama lo. Maafin gue ya. Sampaikan salam gue untuk Rey juga. Terima kasih lo dan Rey udah menemani hari-hari gue selama ini. Tapi waktu gue udah habis,” kataku sambil berusaha kuat dan tersenyum. “Soal akang Rendy. Gue titip surat dan gantungan kunci ini untuknya. Kalau dia kembali disaat gue udah nggak ada bilang maaf dari gue karena gue belum bisa jadi dokter belek. Dan gue yakin dia pasti kembali.”
“LIN! Lo ngomong apa sih! Lo masih bisa sembuh heh! Mana Linda yang gue kenal! Lo itu kuat. Lo bisa lawan penyakit ini. Ayo kita main basket lagi. Katanya lo mau jadi dokter belek. Ngomong lo bisa sehat!” Nisa mulai emosi. Dia mulai memeluk erat tubuhku. Namun ku tak kuasa menahan sakit.
“Nis jagain Rey ya. Maaf gue gak bisa balas rasa sayangnya” kata terakhir dariku. “gue sayang sama kalian semua” lanjutku.
“LINDA! Lo masih bisa hidup! Lin... LINDA! Bangun Lin bangun!” Emosi Nisa menjadi-jadi. Nisa baru menyadari alat pendeteksi jantung sudah berbunyi panjang “Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut” suara pendeteksi jantung.
                                                   ***                                                                                                                                                                     

 #rumah Linda
          Banyak orang yang melayat ke rumahku. Dari mulai sanak saudara yang ada didalam kota maupun luar kota. Aku baru menyadari ternyata banyak sekali orang yang sayang padaku. Nisa dan Rey tak kuasa menahan rasa pedih ditinggal diriku.
         Pada hari dimana ku pergi untuk selama-lamanya, Rendy kembali untuk menemui aku. Namun sesampai dirumahku, dia kebingungan mengapa ada bendera kuning berkibar tepat dipagar depan rumahku. “Siapa yang meninggal?” tanya Rendy pada dirinya sendiri. “Lebih baik ku masuk untuk memastikan,” lanjut ucapnya.
“Assalamu’alaykum..” salam Rendy sambil memasuki rumahku.
“wa’alaykumussalam” jawab orang-orang yang sedang mendo’akan. Aku sudah terbungkus kain kavan dan ditutupi oleh samping berwarna coklat. Nisa pun yang sedang duduk langsung beranjak ketika menyadari yang datang adalah Rendy. Orang yang ditunggu-tunggu olehku.
“Eh Akang. Disini Akang,” Nisa menghampiri Rendy dan menjemputnya mendekati tempat duduk semula.
“Nis, siapa yang meninggal? Ohiya mana Linda? Ko aku nggak liat dia disini?” tanyanya Rendy kebingungan.
         Nisa bingung harus menjawab apa. Karena Linda yang ditanyakan Rendy sedang terbaring kaku dihadapannya dengan terbungkus kain kavan dan tertutup samping berwarna coklat.
“Nis, jawab dong Akang tanya!” nada Rendy mulai menaik. “Orangtuanya ada disini. Kakanya pun ada dua-duanya. Hanya Linda yang tidak ada,” lanjut Rendy.
          Rey yang ada disebalah Nisa masih bersedih dan berusaha menenangkan Nisa yang mulai menangis.
“Nisa jawab pertanyaan akang!” tanya Rendy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nisa.
“AKANG! Linda ada di hadapan akang! Dia sedang terbaring kaku!” jawab Rey yang mulai kesal dengan tingkah Rendy.
“Hahaha kalian ini becanda ya. Linda udah janji ketika Akang kembali dia akan menyambut kedatangan Akang dengan lembut. Lagian dia sehat-sehat aja,” jawab Rendy yang masih belum percaya apa yang telah dikatakan Rey.
“Kalau akang tidak percaya buka saja samping coklat itu. Dan lihat siapa yang terbaring disana,” kata Rey sambil menunjukkan ke arahku.
          Perlahan-lahan Rendy mulai mendekati tubuhku. Tubuhku sekarang sudah tidak lagi kuat. Wajahku sudah berubah pucat. Namun senyum itu masih melekat. Dibukanya kain samping berwarna coklat yang menutupi tubuhku. Ketika Rendy melihat wajahku yang tersenyum, Rendy baru berkata “Innalillahi wainnalilahi raji’un.” Tubuhnya langsung lemas. Ya aku sudah tidak bisa menemaninya lagi. Tugasku sudah selesai.
          Nisa mencoba menenangkan Rendy yang mulai menjerit menangis. Orang pertama yang dia sayangi harus pergi meninggalkannya selama-lamanya. Nisa mengajak Rendy untuk keluar.  “Akang sabar ya. Akang, keluar sebentar yuk. Ada yang Nisa ingin katakan” Nisa dan Rendy pun beranjak dari tempat duduknya.
“Nis, gue ikut,” Rey meminta Nisa untuk ikut mereka.
“Nggak usah Rey. Soal ini gue aja yang bilang. Lo disini aja temenin Alm.”
          Nisa dan Rey berjalan-jalan disekitar rumahku. “Apa yang mau kamu katakan?” Rendy bertanya pada Nisa.
“Akang, Nisa mendapat amanah dari Alm. Nih (menyodorkan surat dan gantungan berbentuk kaki) ini pesan terakhir darinya mungkin. Dia memberikannya padaku disaat detik-detik terakhir meninggal,” jelas Nisa sambil berusaha kuat. “Ohiya ada satu lagi. Dia bilang maaf bila akang kembali sudah tidak bisa melihat dirinya lagi. Dan dia yakin pasti Akang kembali. Tugas Nisa sekarang sudah beres. Nisa mau balik lagi ke rumahnya. Baca ya suratnya. Nisa yakin Akang Kuat ko! Dadah” Nisa pun kembali ke rumahku.
“Tunggu! Apakah dia sakit?” tanya Rendy dengan raut wajah sedih.
“Iya. Dia sakit Kanker selapu otak. Kami pun baru mengetahuinya akhir-akhir ini” jawab Nisa sambil tersenyum kuat.
           Rendy mulai membuka surat dariku. Tak ku beri amplom. Karena tak sempat aku membelinya.



 Teruntuk KUDA
Dari EMBE
Karena aku dan dia “BEDA”



Kurasakan getaran hati
Bimbang tak menentu
Lirihku berkata “Seharusnya rasa itu tak tumbuh sebesar ini”
Namun apa daya
Kenyataan harusku terima
Meskipun setengah hati dijalani
Ragamu harus menjauh
Pergi yang akan amat lama
Tapi ku yakin
Bukan untuk selama-lamanya
Kau akan kembali
Pasti kembali
Dan tetap..
Rasa itu belum hilang dari hati
Rasa yang amat sangat menggebut
Rasa yang ingin memiliki dirimu lebih
Entah rasa sayang
Entah rasa cinta
Entah rasa rindu
Kini semuanya itu menyatu dalam satu Emosi
Harus ku akui
Aku menyayangimu Rendy
Aku ingin memilikimu seutuhnya
Aku berharap dapat menjalani hari denganmu
Dengan kasih putih yang suci
Dengan penuh kesetian dan ketulusan

Namun keinginan itu sudah sirna
Aku harus merelakanmu
 Apakah kau tahu mengapa?
 Sakit ini senantiasa menggrogotiku tubuhku

Satu pesan dariku                                          
Carilah penggantiku yang lebih baik                                     
Maafkan diriku bila kau kembali ragaku sudah terbaring kaku           
Senyumku sudah tak bisa menemani hadirmu                       
Namun aku bangga
Karena Engkau cinta terakhirku
3 kata yang ingin ku ucap
I LOVE YOU
BEDA~




*TAMAT*

by: Sarah Nurmalinda
Tugas cerpen kelas X