Namaku Linda. Aku seorang
siswa SMAN di kota Bandung sekaligus karateka. Cita-citaku menjadi dokter yang
sering ku sebut Dokter Belek. Aku
mempunyai banyak sahabat. Diantaranya Nisa dan Rey. Banyak yang ku alami ketika
memasuki SMA. Salah satunya ku bertemu seseorang yang menurutku dia “BEDA” dari
yang lainnya. Namun ada saja yang membuatku ragu padanya.
Semester 2
“Dan kau hadir mengubah segalanya, menjadi lebih indah,
kau bawa cinta setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna..a..a..a” ku
bernyanyi sambil menatap lapangan basket. Tiba-tiba Nisa mengagetkanku.
“DOAR! Cie yang lagi nyanyi. Nyanyi apa lo? Kayanya lagi
jatuh cinta nih” katanya sambil menggodaku.
“Yeh sok tahu lo. -.- lagian lo tiba-tiba nongol. Emang
kalau gue nyanyi salah ya?” protesku.
“Yah enggalah nengku yang ndut” jawabnya ketus.
“Hm mulai deh Ndut-ndutnya keluar. Gue langsing abang
haha” sambil menjenggut rambutnya.
“Woy, SAKIT TAU!” mulai dia marah.
“Oh sakit. Ya maaf engga tau sih,” balasku ketus.
“Sini lo, gue cubit pipi lo biar makin kaya bapau.” Nisa
pun siap-siap mengejarku. Ku berusaha menghindarinya.
“Silahkan. Kalau bisa! Wle!” ku berlari menuju masjid.
Ketika Nisa mengejarku, aku
berusaha agar dia tak dapat mencubit pipiku. Namun ku mulai kehilangan
keseimbangan. “BRAAAK” ku terjatuh tepat di dekat selokan masjid.
“Auuu sakit ..” ku merengek kesakitan.
“LINDA! Awas jatuh!” teriak Nisa.
“Yeh lo. Gue udah jatuh kali,” keluhku.
“kamu engga apa-apa?” tanyanya seorang kaka kelas cowo
yang tak salah lagi dia yang telah menabrakku. Ternyata dia adalah wagusku
ketika MPLS.
Ngga apa-apa darimana.
Jelas-jelas tanganku berdarah gara-gara dia. Tetapi ku berusaha
menyembunyikannya.
“Gak ko akang,” jawabku datar.
“Oh, bagus kalau begitu.”
“ha?” jawabku cengong. Sialan nih manusia atau vampir.
Benar-benar tidak ada rasa kemanusiaan.
“oh, bagus kalau begitu.” Ulangnya dengan menekan setiap
kata. “Maaf”. Dia pun pergi tanpa sedikitpun memperlihatkan wajah berdosa.
Aku hanya
dapat cengong melihat tingkah manusia yang satu ini. Sifat dinginnya
benar-benar dingin.
Namanya Rendy. Dia kaka
kelasku hingga saat ini. Memang sikapnya yang dingin dan berbicara seperlunya.
Ku sudah dekat dengannya hampir 6 bulan. Dimulai dari tanggal 27 Juli. Dia
memberikanku gantungan kunci yang harus ku jaga sampai aku menjadi dokter bedah.
Banyak orang yang bilang dia aneh, gak jelas,
serius, dan garing. Kecuali aku. Bisa
dibilang dia seseorang yang ku kagumi dari pertama masuk SMA. Namun ku yakin.
Dia mempunyai sesuatu yang orang lain belum mengetahuinya.
“Dret...Dret !” ponselku bergetar. Satu pesan dari Rey.
“Hari ini langsung pulang?”
“Belum tahu,” balasku singkat.
“Dret...Dret!” ponselku bergetar kembali. Satu pesan
dari Rendy. “Linda, langsung pulang kah?”
“belum tahu akang J”
balasku singkat.
#bel pulang pun berbunyi.
Aku pun menghampiri Nisa.
Kelasnya tepat disebrang kelasku. “Lama banget si Nisa keluar.” Ku menggerutu
kesal.
“WOY !” dia kembali mengagetkanku.
“Heh lo ngagetin gue terus. Gimana kalo jantung gue
copot! Mau lo tanggung?” kataku kesal.
“Aduh si neng bawel banget sih. Baru juga segitu. Yah
kalau copot paling lo udah mati kali Lin,” jawabnya ringan.
“Yauda lupakan. Ohiya sekarang mau bareng engga?”
tanyaku.
“Engga tau nih, aku udah punya janji dengan Sanny,”
sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hih lo banyak kutu ya? Garuk-garuk kaya orangutan. Hm..(mengangkat
jari) gue kemana ya? Bingung, di rumah sendiri.”
“Eh sekarang kan hari Jum’at. Bukannya lo latihan karate
ya?” tanyanya dingin.
“Ya ampun gue lupa. Bajunya ketinggalan (terkejut).
Yauda gue balik ya. Dadah” tanpa menghiraukan jawaban Nisa, aku langsung pulang
untuk mengambil baju karate.
“Eh..eh -..- kebiasaan tuh anak”
Tak lama
aku pergi. Nisa berpapasan dengan Rey.
“woy NISA!” panggil Rey dengan kencang
“woy biasa aja manggilnya om” balas Nisa kesal.
“sorry deh hehe. Kirain nggak denger lo. Ohiya, liat si
ndutt nggak?” tanya Rey
“beuh dia baru aja balik. Baju karatenya
ketinggalan.”jawab Nisa
“ohiyaya dia karate sekarang. Hm.. lo mau kemana?” tanya
Rey penasaran.
“kepo lo! Gue udah ada janji dengan Sanny. Gue titip si
ndut sama lo ya. Soalnya kalian seleseinya bareng. Anterin dia sampai parkiran.
Awas kalo kagak!” Nisa menasehati Rey dengan bawel.
“tanpa lo suruh juga gue pasti jagain ko si ndut. Kalem
aja.” Jawab Rey tenang.
“yauda bagus deh. Gue pergi ya. Hati-hati lo!” Nisa
melambaikan tangan pada Rey.
“yang hati-hati itu lo!” Rey langsung pergi ke sekre
basket.
Nisa dan Rey adalah
sahabatku yang paling cerewet. Mereka sudah menganggapku seperti adik mereka
sendiri. Karena tingkahku yang terkadang manja didepan mereka. Bahkan
akhir-akhir ini kami sering pergi bersama untuk bermain. Namun sebenarnya ada
yang disembunyikan oleh Rey. Dia menyukaiku. Awalnya aku tak mengetahuinya.
Tetapi semakin kesini, tingkahnya semakin terbaca olehku. Sempat dia
mengirimkan sms tidak jelas. Dan
menurut Nisa, Rey memang suka padaku.
Keesokan harinya
“Rey! Woy Rey!” panggil Nisa.
(menegok ke belakang) “Eh lo Nis.” Rey pun berlari
menghampiri Nisa.
“Lo budek ya. Diteriakin nggak nyahut-nyahut.” Nisa
menggerutu kesal.
“ye ya sorry
Nis. Habis lo bukannya samperin, malah teriak-teriak kaya orang gila,” balas
Rey sadis.
“enak aja gue dibilang orang gila,” jawab Nisa sambil
menjambak rambut Rey.
“woy sakit tau!” Rey berusaha melepaskan tangan Nisa
dari rambutnya.
“ eits, nggak bisa wle!” akhirnya Nisa pun melepaskan
tangannya dari kepala Rey. Rey berusaha mengejarnya. Namun Nisa terlalu lincah
untuk diajak berlari.
“ah gue nyerah deh” Rey pun duduk di Tribun sambil
mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
“eh Rey lo payah! Baru ngejar gue segini aja udah
nyerah. Gimana mau ngejar cintanya si Linda” ejek Nisa.
“yeh kalo urusan itu ya bedalah. Kalau ngejar dia sampai
ke ujung dunia pun gue kejar!” Rey mulai membelas dirinya.
“ha? Apa lo bilang? Sampai ujung dunia? BEGO!” Nisa pun
tak ingin kalah.
“loh ko gue dibilang bego?” tanya Rey kebingungan.
“jangan-jangan lo cemburu ya. Haha,” lanjut Rey.
“lo pernah belajar geografi gk sih? Kan bumi itu bulat.
Kalo bulat ya nggak akan ada ujungnyalah” tanya Nisa sambil mengejek Rey.
“yeh kan perumpamaan dong. Ceritanya mau lebay kan
hehehe.” Balas Rey yang sama-sama keras kepala.
“iya deh perumpamaan. Tapi perumpamaan orang BEGO!” Ejek
Nisa dengan pedas.
“eh lo rese banget sih” Rey mulai kesal
“biarin!” jawab Nisa ketus.
Pantes nggak ada yang suka sama lo” Balas Rey mengejek
“enak aja. Banyak tau!” Nisa terus saja membela diri
“iya bener banyak. Cuma kalo udah deket lo mereka ilfil”
semprot Rey sambil mengacak-ngacak rambut Nisa
“Idih Rey lo jahat” jawab Nisa dengan raut wajah
pundung.
“lo lebih jahat!” Balas Rey tak ingin kalah.
“iya deh gue nyerah Rey” akhirnya Nisa pun mengalah
“nah gitu dong” Rey pun merasa puas.
“gue kasian sama lo. Jadi gue nyerah hehe”
“btw, kemana si ndut? Dia langsung pulang?
“kagak tau. Coba gue sms deh.” Balas Nisa sambil
mengeluarkan ponsel di saku roknya.
“apa dia lagi sama akang-akang itu ya” Rey mulai
kebingungan.
“ah nggak mungkin. Kalau dia bareng, pasti ngabarin ko”
jawab Nisa sambil menenangkan Rey.
Tiba-tiba
aku pun datang dengan nafas ngos-ngosan.
“WOY KALIAN!!” kagetku pada mereka.
“sialan lo ndut ngagetin gue” jawab Nisa dingin.
“sorry gue nggak kabarin kalian. Lagi nggak ada pulsa
nih. Ohiya tadi ada tambahn biologi. Jadi telat. Pasti kalian nungguin gue ya?
Sorry banget ya” kataku sambil berusaha mengatur nafasku.
“ndut...ndut.. atur nafas lo. Santai aja kali.” Balas
Rey mencoba menenangkanku.
“eh ndut tuh
akang Rendy lewat” Nisa mengagetkanku dengan menepok pundakku kencang.
“woy sakit tau! Hm.. mau kemana ya da..” tanyaku.
“yah samperin dong” bals Nisa ketus.
“ogah. Yang ada gue ditiisin lagi” balasku menolak.
Tak
sadar. Raut wajah Rey berubah menjadi merah. Ku tak tau pasti mengapa dia tiba-tiba
seperti itu. Namun sudah pasti dia cemburu.
“gue ke kanti” balas Rey dengan nada dingin. Benar apa
kataku.
“heh Nis mulut lo harus dijaga deh” protesku
“ohiyaya deh maaf. Aku lupa hehe. Udahlah. Ntar juga Rey
baikan lagi” Nisa mencoba menenangkan.
Akang Rendy cinta pertamaku
di SMA. Orang menilaiku aneh bisa menyukainya. Padahal menurut mereka, aku bisa
mendapatkan yang lebih daripadanya. Menurutku akang Rendy sosok yang dewasa.
Tidak hanya itu, sebenarnya dia bisa romantis seperti cowok lainnya, perhatian
bahkan sangat perhatian. Caranya saja yang berbeda. “BEDA” sebutan untuk kami.
Singkatan dari EMBE jeung KUDA.
Konyol bahkan sangat konyol.
#Lembang
“Linda, lihat itu Embe. Kembaran kamu hahaha,” katanya
dengan penuh kepuasan.
“Yey enak aja. Lucu tahu aku mah,” balasku dengan
memasang wajah so imut.
“Ih kenapa tuh muka kamu? Jelek banget,” jawabnya
dingin.
“Ih enak aja,” jawabku singkat.
Pemandangan
yang indah ditambah lelucuan Rendy yang super garing. Ku memang tertawa.
Tertawa karena wajahnya yang polos.
“Linda, Akang mau
menanyakan sesuatu padamu,” kali ini dia serius.
“Hm.. boleh. Apa memang?” kataku
berusaha tetep tenang walaupun aku sedikit kaget.
“Ko kamu mau jalan dengan Akang?
Padahal banyak lelaki selain akang yang lebih dan bisa dikata mereka ganteng.”
“Hm loh nanyanya seperti
itu,” aku bingung harus menjawab apa. Sebenarnya aku bisa menjawab yang
sebenarnya. Namun aku terlalu gugup dan malu.
“Yah, Akang hanya bertanya.
Hahaha hanya mengetes ko. Mukanya lucu juga kalau lagi kebingungan,” jawabnya
datar.
“Hah? Lucu? Linda tidak
salah dengar? balasku terkejut.
“Biasakan hah diganti
dengan apa. Itu kurang sopan.”
“Ohiya maaf. Apa? Lucu?”
tanyaku ulang dengan memperbaiki perkataanku.
“Eh, lihat ada kuda.” Rendy
menunjuk seekor kuda tanpa mempedulikan pertanyaanku.
Ini kesekian kalinya aku jalan bersamanya. Namun akhir-akhir
ini kami jarang untuk jalan bersama karena dia sibuk untuk mempersiapkan Ujian
Nasional. Terlintas dipikiranku. Ujian Nasional? Sebentar lagi dia akan lulus
dan otomatis dia akan meninggalakanku. Keluarganya tinggal di Karawang. Kalau
dia meneruskan kuliah diluar Bandung, apa kami bisa bertemu seperti saat ini?
“WOY! Ngelamun aja!” kata
Rendy dengan wajah polos.
“Hehe maaf KUDA!” kataku
nyolot.
“Ngelamunin apa hayo? Akang
nyak?” tanyanya dengan percaya diri.
“Yeeee GR banget sih. Tapi
memang bener,” kataku sambil menjenggut rambutnya. “Akang, kalau akang kuliah
apa kita masih bisa bertemu seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Hm.. Entahlah. Ingat hukum
III NEWTON. Ada aksi dan reaksi. Jika Linda beraksi maka akang akan beraksi.
Ingat pula pesan akang. Bunga akan mekar indah pada waktunya. Akang pun akang
menunggu bunga itu mekar pada waktunya.” Rendy menjelaskan panjang lebar.
“Hehe oh” jawabku singkat.
“Oh,oh,oh ngerti kagak?” tanyanya
yang mulai kesal.
“ENGGA! Wle! KABUUUUUR!”
kataku sambil berlari.
“Yeh
dasar EMBE!” balasnya dingin.
Ujian Nasional pun selesei. Dan Rendy lulus dengan nilai
terbaik. Namun sayang, dia tidak bisa melanjutkan kuliahnya di ITB. Melainkan
diluar kota. Karena keluarga menginginkannya kembali bersama.
“Linda, gimana hubungan lo
sama Akang-akang itu?” tanya Nisa penasaran.
“Akang Rendy maksud lo?”
kataku menegaskan. “Entahlah Nis (menghela nafas). Gue sedih kalau bener dia
harus kuliah di luar kota. Masalahnya kapan gue sama dia bisa ketemu” jawabku
pasrah.
“Sabar ya Lin. Gue tau ini
berat buat lo. Tapi yakin semua ini memang yang terbaik,” tangan Nisa mulai
mengelus rambutku.
“Jiah sinetron banget sih.
Kalem aja. Gue kuat ko abang,” jawabku dingin. Aku kembali berpura-pura kuat
didepan Nisa. Sebenarnya aku tak ingin membuat sahabatku sedih hanya karena
masalahku sendiri. Aku hanya akan berbagi kesenangan padanya.
Matahari seakan-akan
hanya beberapa jengkal dari bumi. Hari ini sangat panas. Kami memutuskan untuk
bermain basket. Namun hanya Nisa yang bermain. Tiba-tiba Rey pun datang dan
bergabung dengan Kami.
“Lin, sini main sama kita.
Daripada bengong sendiri di Tribun,” ajak Nisa padaku.
“Iya ndut. Ntar tambah
gendut loh gara-gara jarang olah raga,” Rey pun berusaha membujukku.
Entahlah
aku sedang tidak bersemangat hari ini. Mengingat Rendy sudah lulus. Dan lambat
laun dia akan meninggalkan SMA ini. Bukan hanya SMA namun kota yang telah
mengukir kenangan ku bersamanya.
“Nggak. Gue disini aja
lihat kalian main basket. Lagian gue nggak bisa basket” kataku dengan raut
wajah kepanasan.
“Dret..Dret” ponselku
bergetar. Satu pesan dari Rendy. “Linda maaf akang baru mengabarkan.
Alhamdulillah kelulusan sudah dibagikan. Dan akang mendapat nilai memuaskan.
Ini semua berkat doa orang tua, akang, dan terutama LINDA. Maafkan kesalahan
akang selama ini. Tapi mungkin sudah waktunya. Jaga kesehatan. Terutama jaga selalu
hatimu. Akang akan kembali ketika Linda sudah benar-benar mekar dengan
sendirinya. Miis You Embe :’)”
Tak bisa ku bendung lagi. Air mata ku mengalir membasahi
pipiku yang sudah mulai memerah. Ku tak sanggup. Kali ini aku benar-benar
menangis. Menagis karena kepergiannya. Aku sudah mengira semua akan berakhir
seperti ini. Kata-katanya sangat menyentuh. Entahlah apa yang bisa ku balas
dari sms tersebut.
“Nisa lo ngerasa aneh
nggak?” tanya Rey pada Nisa.
“Hm kenapa emang? Ngerasa
sih. Hari ini panas banget bro,” jawabnya Nisa sambil mengshut bola ke ring.
“Yeh lo bego. Maksud gue
Linda. Liat dia! (sambil menunjuk ke arahku) “Apa dia ada masalah?” tanya Rey
dengan ekspresi mengkhawatirkan.
“Astaga. Lo napa nggak
bilang daritadi. Dia nangis dodol.”
Nisa dan Rey menyadari bahwa aku sedang menagis. Mereka
kebingungan. Mungkin ingin rasanya mereka bertanya, namun enggan karena takut.
“Heh ndut kenapa?” tanya
Rey yang mulai berani bertanya.
“Eh kalian. Sudah main
basketnya?” tanyaku pada mereka tanpa menghiraukan pertanyaan Rey.
“Eh neng ditanya malah
balik tanya. Udah selesei ko. Soalnya tiba-tiba hujan,” kata Nisa sambil
mengelus kepalaku.
“Ha? Hujan darimana? Orang
panas gini,” tanyaku heran. Astaga! Sepertinya mereka sadar aku menangis.
“Gara-gara bidadarinya lagi
bersedih. Jadi deh hujan,” jawab Nisa asal.
Aku masih belum bisa merelakan Rendy pergi. Dan tak tahu
kapan dia akan kembali.
Sekarang
ku sudah duduk kelas XI IPA sama seperti Rey. Sedangkan Nisa masuk kelas IPS
sesuai dengan keinginannya. Namun kini tak ada senyuman Rendy menghiasi
hari-hariku.
Kelas XI
memang benar masa-masa yang indah. Nisa dan Rey selalu ada saat ku membutuhkan
mereka. Disaat ku bersedih mereka selalu menghiburku dengan tingkah mereka yang
autis. Tapi ada satu masalah. Semakin hari tubuhku semakin lemah. Seringkali
aku mimisan. Nisa dan Rey tidak tau itu semua. Aku sengaja menyembunyikannya
dari mereka. Namun sampai kelas XII akhir.
“1..2..3..4..5..6..7..8..”
suara Pak Asep guru olahraga dengan semangat. “Ayo hitung semuanya!” kata Pak
Asep mengintruksikan kami.
“1..2..3..4..5..6..7..8..”
sekarang giliran kami yang menghitung dengan kompak.
“LINDA!” Pak Asep memanggil
namaku dengan suara menggelegar.
“Ya pak,” jawabku sambil
mengacungkan tangan.
“Bapak bukan mengabsenmu!
Daritadi bapak lihat kamu yang paling lemes diantara teman-temanmu. Kamu
sakit?” katanya sambil menghampiri diriku.
“Tidak pak!” jawabku tegas.
“Kamu tidak bisa berbohong
pada bapak! (memegang dahiku) Badanmu demam. Kalau kamu melanjutkan pelajaran
Bapak, kamu akan merepotkan teman-temanmu,” lanjutnya menasehatiku.
Memang
benar apa yang dikatakan Pak Asep. Tubuhku sangat lemas. Suhu tubuhku tinggi.
Tapi aku harus memaksakannya. Karena hari ini adalah Ujian Praktek. Aku malas
jika harus mengikuti ujian susulan dan nilainya pun pas KKM.
“LINDA! Bapak sedang bicara
denganmu!” teriaknya padaku.
Tubuhku tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Mataku mulai
kabur. Suara Pak Asep pun terdengar samar-samar. Semakin lama kakiku lemas. Tak
dapat aku gerakkan sama sekali. Aku melihat cahaya putih. Ada seorang lelaki
berjalan menujuku dengan berpakaian serba putih. Wajahnya tidak jelas namun lelaki
itu tidak asing bagiku. Semakin mendekat dan terus mendekat. Aku tak bisa
melihat wajahnya. Cahaya putih itu mengganggu penglihatanku. Terdengar suara
lelaki itu memanggil namaku. “Linda..Linda..Linda” lelaki itu memanggil namaku
terus-menerus. Namun bayangnya mulai menjauh dariku. “Hey jangan pergi! Kamu
Akang Rendy? Jawab hey!” kataku sambil ku berusaha menggapainya. “Akang Rendy
apa itu kau?” lanjutku. “AKANG RENDY!” teriakku dengan kencang.
“Linda lo kenapa?” tanya
Nisa.
Aku baru
sadar. Ternyata itu semua hanya mimpi. “Hah? Gue dimana nih?” tanyaku
kebingungan.
“Lo ada di UKS Lin. Tadi
pas ujian praktek lo pingsan. Sebelumnya lo sempet mimisan. Lagian lo maksain.
Badan lo demam Lin! Untung tadi gue dengan Rey langsung nyumpel mulutnya Pak
Asep. Gubrak lo pingsan,” kata Nisa menasehatiku dengan ekspresi khawatir
“Hehe oh. Iya deh maaf.
Bawel banget lo Nis.”jawabku tenang. Aku sadar aku telah merepotkan banyak
orang.
“Eh Lin. Lo lagi ada
masalah ya?” tanya Rey padaku.
“Masalah? Nggak tuh,” balasku
sambil beranjak dari kasur UKS.
“Eh, lo jangan banyak gerak
dulu! (memegang tanganku) lo masih lemas ndut!” kata Rey dengan penuh
kekhawatiran.
“Ih kalian kenapa sih.
Parno banget. Gue udah nggak apa-apa. Lihat nih (melepas genggaman Rey) Noh gue
bisa berdiri lagi kan,” kataku menyombongkan.
***
Kami sekarang sudah lulus SMA. Namun berita buruk. Kali
ini aku terbaring dirumah sakit. Seusai ujian Nasional dan Ujian akhir sekolah
penyakitku sering kambuh. Sebenarnya sudah 1 tahun aku mengidap penyakit kanker
selaput otak. Namun aku baru mengetahuinya ketika 3 bulan yang lalu. Dan tetap
aku merahasiakan kepada keluargaku dan Nisa serta Rey. Tentang Rendy, dia tidak
ada kabar sama sekali. Hatiku mulai ragu akan janjinya yang akan kembali.
Tetapi ku berusaha menepis rasa raguku dan tetap yakin bahwa dirinya pasti
kembali.
Semakin
hari keadaanku semakin buruk. Rambutku mulai rontok. Bahkan hampir habis. Ku
sempatkan membuat surat untuk Rendy.
Nisa dan Rey setia menemani
hari-hariku dirumah sakit. Terbaring tak berdarah. Ingin rasanya sehari saja
aku meninggalkan tempat mengerikan ini. Dapat menghirup udara segar dan
berlari-lari bersama kedua sahabatku yang sangat ku sayang. Apakah Rendy
mengetahui bahwa aku sakit? Apakah dia baik-baik saja disana? Apakah kami dapat
bertemu kembali untuk terakhir kalinya? Waktu yang menjawab itu semua.
Kali ini Nisa yang menjagaku. Dia mungkin sangat lelah
menjagaku. Dia sahabatku yang paling setia menungguku. Aku usap rambutnya. Tak
sadar air mataku keluar kembali. Ku tak tega bila aku harus meninggalkan Nisa
dan juga Rey yang sudah banyak membantuku. “Nis, maafin gue kalau gue tiba-tiba
pergi ninggalin lo selamanya,” kataku sambil memegang tangannya yang begitu
hangat. Dia masih tertidur pulas. Rasa kepala itu kambuh kembali. Sialan kenapa
sakit ini harus kambuh disaat ku ingin bersama Nisa. “Ya Allah, aku pasti kuat!
Aku masih bisa. Dan harus bisa. Ya Allah berilah waktuku sebentar saja untuk
pamit pada mereka. Setelah itu Engkau boleh mangambilmu” kataku berharap
padaNya sambil memegang tangan Nisa erat-erat.
Nisa pun
terbangun. “Linda! Lo kenapa? Lo kesakitan?” tanyanya kebingungan kerena
melihat ku menggenggam erat tangannya. Ekspresinya berubah ketakutan.
Aku
berusaha berbicara walau rasa sakit ini sudah tidak dapat aku tahan. “Nis...
gue tau gue banyak salah sama lo. Maafin gue ya. Sampaikan salam gue untuk Rey
juga. Terima kasih lo dan Rey udah menemani hari-hari gue selama ini. Tapi
waktu gue udah habis,” kataku sambil berusaha kuat dan tersenyum. “Soal akang
Rendy. Gue titip surat dan gantungan kunci ini untuknya. Kalau dia kembali
disaat gue udah nggak ada bilang maaf dari gue karena gue belum bisa jadi
dokter belek. Dan gue yakin dia pasti kembali.”
“LIN! Lo ngomong apa sih!
Lo masih bisa sembuh heh! Mana Linda yang gue kenal! Lo itu kuat. Lo bisa lawan
penyakit ini. Ayo kita main basket lagi. Katanya lo mau jadi dokter belek.
Ngomong lo bisa sehat!” Nisa mulai emosi. Dia mulai memeluk erat tubuhku. Namun
ku tak kuasa menahan sakit.
“Nis jagain Rey ya. Maaf
gue gak bisa balas rasa sayangnya” kata terakhir dariku. “gue sayang sama
kalian semua” lanjutku.
“LINDA! Lo masih bisa
hidup! Lin... LINDA! Bangun Lin bangun!” Emosi Nisa menjadi-jadi. Nisa baru
menyadari alat pendeteksi jantung sudah berbunyi panjang
“Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut” suara pendeteksi jantung.
***
#rumah Linda
Banyak
orang yang melayat ke rumahku. Dari mulai sanak saudara yang ada didalam kota
maupun luar kota. Aku baru menyadari ternyata banyak sekali orang yang sayang
padaku. Nisa dan Rey tak kuasa menahan rasa pedih ditinggal diriku.
Pada hari dimana ku pergi untuk selama-lamanya, Rendy
kembali untuk menemui aku. Namun sesampai dirumahku, dia kebingungan mengapa
ada bendera kuning berkibar tepat dipagar depan rumahku. “Siapa yang
meninggal?” tanya Rendy pada dirinya sendiri. “Lebih baik ku masuk untuk
memastikan,” lanjut ucapnya.
“Assalamu’alaykum..” salam
Rendy sambil memasuki rumahku.
“wa’alaykumussalam” jawab
orang-orang yang sedang mendo’akan. Aku sudah terbungkus kain kavan dan
ditutupi oleh samping berwarna coklat. Nisa pun yang sedang duduk langsung
beranjak ketika menyadari yang datang adalah Rendy. Orang yang ditunggu-tunggu
olehku.
“Eh Akang. Disini Akang,”
Nisa menghampiri Rendy dan menjemputnya mendekati tempat duduk semula.
“Nis, siapa yang meninggal?
Ohiya mana Linda? Ko aku nggak liat dia disini?” tanyanya Rendy kebingungan.
Nisa bingung harus menjawab apa. Karena Linda yang
ditanyakan Rendy sedang terbaring kaku dihadapannya dengan terbungkus kain
kavan dan tertutup samping berwarna coklat.
“Nis, jawab dong Akang
tanya!” nada Rendy mulai menaik. “Orangtuanya ada disini. Kakanya pun ada
dua-duanya. Hanya Linda yang tidak ada,” lanjut Rendy.
Rey yang
ada disebalah Nisa masih bersedih dan berusaha menenangkan Nisa yang mulai
menangis.
“Nisa jawab pertanyaan
akang!” tanya Rendy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nisa.
“AKANG! Linda ada di
hadapan akang! Dia sedang terbaring kaku!” jawab Rey yang mulai kesal dengan
tingkah Rendy.
“Hahaha kalian ini becanda
ya. Linda udah janji ketika Akang kembali dia akan menyambut kedatangan Akang
dengan lembut. Lagian dia sehat-sehat aja,” jawab Rendy yang masih belum
percaya apa yang telah dikatakan Rey.
“Kalau akang tidak percaya
buka saja samping coklat itu. Dan lihat siapa yang terbaring disana,” kata Rey
sambil menunjukkan ke arahku.
Perlahan-lahan
Rendy mulai mendekati tubuhku. Tubuhku sekarang sudah tidak lagi kuat. Wajahku
sudah berubah pucat. Namun senyum itu masih melekat. Dibukanya kain samping
berwarna coklat yang menutupi tubuhku. Ketika Rendy melihat wajahku yang
tersenyum, Rendy baru berkata “Innalillahi wainnalilahi raji’un.” Tubuhnya
langsung lemas. Ya aku sudah tidak bisa menemaninya lagi. Tugasku sudah
selesai.
Nisa
mencoba menenangkan Rendy yang mulai menjerit menangis. Orang pertama yang dia
sayangi harus pergi meninggalkannya selama-lamanya. Nisa mengajak Rendy untuk
keluar. “Akang sabar ya. Akang, keluar
sebentar yuk. Ada yang Nisa ingin katakan” Nisa dan Rendy pun beranjak dari
tempat duduknya.
“Nis, gue ikut,” Rey
meminta Nisa untuk ikut mereka.
“Nggak usah Rey. Soal ini
gue aja yang bilang. Lo disini aja temenin Alm.”
Nisa dan
Rey berjalan-jalan disekitar rumahku. “Apa yang mau kamu katakan?” Rendy
bertanya pada Nisa.
“Akang, Nisa mendapat
amanah dari Alm. Nih (menyodorkan surat dan gantungan berbentuk kaki) ini pesan
terakhir darinya mungkin. Dia memberikannya padaku disaat detik-detik terakhir
meninggal,” jelas Nisa sambil berusaha kuat. “Ohiya ada satu lagi. Dia bilang
maaf bila akang kembali sudah tidak bisa melihat dirinya lagi. Dan dia yakin
pasti Akang kembali. Tugas Nisa sekarang sudah beres. Nisa mau balik lagi ke
rumahnya. Baca ya suratnya. Nisa yakin Akang Kuat ko! Dadah” Nisa pun kembali
ke rumahku.
“Tunggu! Apakah dia sakit?”
tanya Rendy dengan raut wajah sedih.
“Iya. Dia sakit Kanker
selapu otak. Kami pun baru mengetahuinya akhir-akhir ini” jawab Nisa sambil
tersenyum kuat.
Rendy mulai membuka surat dariku. Tak ku beri amplom.
Karena tak sempat aku membelinya.
Teruntuk
KUDA
Dari
EMBE
Karena
aku dan dia “BEDA”
Kurasakan
getaran hati
Bimbang
tak menentu
Lirihku
berkata “Seharusnya rasa itu tak tumbuh sebesar ini”
Namun
apa daya
Kenyataan
harusku terima
Meskipun
setengah hati dijalani
Ragamu
harus menjauh
Pergi
yang akan amat lama
Tapi
ku yakin
Bukan
untuk selama-lamanya
Kau
akan kembali
Pasti
kembali
Dan
tetap..
Rasa
itu belum hilang dari hati
Rasa
yang amat sangat menggebut
Rasa
yang ingin memiliki dirimu lebih
Entah
rasa sayang
Entah
rasa cinta
Entah
rasa rindu
Kini
semuanya itu menyatu dalam satu Emosi
Harus
ku akui
Aku
menyayangimu Rendy
Aku
ingin memilikimu seutuhnya
Aku
berharap dapat menjalani hari denganmu
Dengan
kasih putih yang suci
Dengan
penuh kesetian dan ketulusan
Namun
keinginan itu sudah sirna
Aku
harus merelakanmu
Apakah kau tahu mengapa?
Sakit ini senantiasa menggrogotiku tubuhku
Satu
pesan dariku
Carilah
penggantiku yang lebih baik
Maafkan
diriku bila kau kembali ragaku sudah terbaring kaku
Senyumku
sudah tak bisa menemani hadirmu
Namun
aku bangga
Karena
Engkau cinta terakhirku
3
kata yang ingin ku ucap
I
LOVE YOU
BEDA~